Langsung ke konten utama

Kalau Kata Orang Bijak, Semua Pasti ada Hikmahnya.

    Ya pasti kalimat itu tidak asing ditelinga kita. Kita seagai manusia “dipaksa” untuk berfikir bahwa dibalik semua masalah, pasti ada hikmahnya. Entah berapa kali kita harus berfikir agar hikmah itu kita temukan. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada dunia belakangan ini, kita digoncangkan dengan sebuah pandemic yang disebut COVID-19. Yang mana sependek pengetahuan saya virus tersebut berawal dari kota Wuhan, Tiongkok. Jujur saya sampai saat ini belum paham betul apa penyebab munculnya wabah tersebut. Sekitar bulan November kota Wuhan diserang oleh wabah itu. Betapa mengerikan melihat video orang-orang yang berjatuhan tak berdaya yang disebut divideo akibat wabah ini, sejujurnya saya belum tahu pasti kevalidan video tersebut. Hingga pada akhirnya Indonesia dihebohkan oleh orang yang terkena positif COVID-19 sekitar bulan Maret kalau tidak salah. Setelahnya wabah ini menyebar luas dengan cukup cepat hampir di seluruh Indonesia. Segala sector terkena dampak atas wabah ini, baik sector formal maupun sector informal. Tak hanya sampai disitu, segala bidang pun ikut terkena dampaknya, baik ekonomi, social, dan politik. Pada bidang ekonomi sangat jelas terjadi penurunan omset besar-besaran dari berbagai perusahan hingga mengharuskan perushaan “cuci gudang” pegawainya. Indeks Harga Saham Gabungan pun terjun bebas, hingga masih banyak yang lainnya. Kemudian pada bidang social kita ketahui bahwa orang-orang tidak dapat bertemu secara langsung satu sama lainnya, hingga tempat-tempat ibadah yang harus ditutup. Kemudian dibidang politik, kita ketahui rencana Pilkada serentak di tahun 2020 yang dipaksa diundur. Selain itu dibidang pendidikan, para siswa maupun mahasiswa dipaksa untuk belajar dari rumah. Dan masih banyak yang lainnya.

            Kemudian saya cukup merasakan dampak dari wabah ini. Saya yang saat ini sedang menempuh strata satu jurusan Akuntansi FEB UB harus belajar dari rumah dari sekitar pertengahan bulan Maret, lebih tepatnya sejak hebohnya salah satu mahasiswa UB yang terkena positif COVID-19. Yang kemudian saya terpaksa pulang ke rumah saya di Bekasi. Sisa semester dilakukan secara daring, dosen-dosen menjelaskan secara video melalui aplikasi Zoom maupun GMeeting. Namun, saya cukup heran dengan beberapa dosen lainnya yang seakan akan lepas tanggung jawab, yaitu hanya dengan memberi mahasiswanya quiz, tugas ataupun hanya dengan memberi ppt. Saya merasa seharusnya dosen masih bertanggung jawab memberi kuliah online melalui zoom dsb. Selain itu dengan daring ini, sangat bergantung sekali pada jaringan, dan kita ketahui jaringan di Indonesia belum merata untuk mudah diperoleh di berbagai daerah. Maka saya merasa cukup menjadi beban untuk teman teman kita yang bertempat tinggal di daerah yang masih kesulitan mendapat sinyal, dan untuk teman teman kita sebagian yang ekonomi keluarganya terdampak atas wabah ini. Maka saya sangat mengaharapkan bila kedepanya kuliah dipaksa untuk daring, Universitas dapat memastikan bahwa adanya standar dalam kegiatan mengajar atau kuliah secara daring, yaitu dosen wajib memberi materi secara lisan dan dua arah melaui zoom dsb. Karena jika tidak, saya sangat khawatir dan resah ada dosen-dosen yang berlaku seperti yang saya jelaskan diawal. Kemudian  untuk problem yang kedua, saya belum menemukan solusi nya hingga saat ini, dan yang ketiga saya harapkan juga pihak birokrat kampus dapat memberi solusi yang lebih mudah, karena sejauh ini informasi yang saya dapatkan birokrat menghendaki penurunan ukt dengan mekanisme yang sudah sudah yaitu mahasiswa mengajukan penurunan ukt pada crisis center. Atau setidaknya terdapat subsidi kuota kepada seluruh mahasiswa, karena dari info yang saya dapat subsidi kuota hanya untuk mahasiswa yang golongan 1 dan mahasiswa bidik misi. Karena seluruh mahasiwa juga jika membayar ukt full, tidak mendapat fasilitas dari kampus selayaknya kuliah offline.

            Selain pada tingkat universitas, kebetulan adik saya yang masih duduk dibanku SMP kelas 7 juga merasakan dampaknya. Adik saya bersekolah di salah satu SMPIT yang cukup terkenal di daerah kami, menggunakan system boarding adik saya terpaksa harus pulang sejak pertengahan Maret, hampir sama dengan dimulainya kuliah online saya. Selama sekolah daring, adik saya sangat jarang mendapat kelas secara online, entah apa alasanya, namun saya merasa disini guru masih harus bertanggung jawab untuk memberi dan menjelaskan materi kepada para siswanya. Yang mana lagi adik saya masih kelas 7 SMP, yang dapat dikatakan masih kecil, ya walaupun saya tahu di kurikulum 2013 siswa diharapkan untuk belajar secara mandiri, namun ia masih terlalu kecil dan bahkan masih butuh bimbingan layaknya sekolah secara ofline biasanya. Dan belum lama ini, adik saya mendapat tugas menjelang UAS yang entah materinya sudah dijelaskan oleh siapa antara sekolah daring hingga tugas itu diberikan. Akhirnya adik saya hanya mencari jalan pintas, belajar dari apa yang dipertanyakan di soal. Dan menurut saya tidak hanya adik saya yang melakukan hal demikian, dan dengan begitu maka ilmu yang dimiliki oleh siswa-siswa tersebut tidak seluas dari diluar soal yang ditanyakan. Dan ketika UASpun, hampir di semua pelajaranya pada bagian essai soalnya sama seperti soal yang ada di latihan menjelas UAS tersebut. Saya tidak tahu maskud dari hal itu. Apakah soal latihan UAS untuk  menjadi kisi-kisi atau bocoran, entahlah. Kedepanya saya mengharapkan sekolah adik saya tersebut dan sekolah-sekolah atau instansi pendidikan lainya lebih berbenah menyiapkan system yang pas untuk hal itu.

            Menyambung dari yang saya katakana diawal, setiap hal pasti ada hikmahnya. Dan hikmah yang saya dapatkan ialah, keluarga saya lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebelumnya sangat susah untuk berkumpul bersama-sama, karena saya yang harus pergi ke Malang untuk kuliah, adik saya yang harus boarding, hingga kakak saya yang sudah tinggal diluar rumah sejak menikah beberapa tahun silam. Mungkin dapat dikatakan hal itu menjadi hal yang istimewa bagi kami, berkumpul, bercanda dsb. Tidak kalah juga, bapak saya yang sebelumnya mungkin cukup sibuk dengan pekerjaanya, sekarang ketika wabah ini terjadi kantor kecil tempat ia usaha tutup sementara, sehingga bapak saya memiliki waktu yang luang untuk lebih banyak beribadah, cukup istimewa juga menurut saya. Hingga yang terakhir ponakan saya yang usianya baru genap 1 tahun 2 bulan mulai bisa berjalan, sebelumnya masih harus di tatih, dan itu juga hal yang cukup istimewa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Makna Timur

Disclaimer: tulisan ini aku buat di tengah-tengah kesibukan pekerjaan dan didedikasikan untuk pacarku, Maudina Zahra sebagai bentuk ucapan ulang tahunnya yang jatuh pada 14 Februari. Selamat ulang tahun ya sayang! Suatu hari pada tahun 2022 di salah satu  cafe daerah dinoyo, aku lagi pusing skripsian bareng temen-temen kuliah.  Cafe  itu kita pilih sebagai tempat skripsian karena murah hahaha. Namanya juga anak kosan, nyari  cafe  yang pas di kantong. Waktu itu, aku lagi sering dengerin Efek Rumah Kaca, ya aku cukup telat dengerin Efek Rumah Kaca yang sebenernya udah ada sejak tahun 2005. Sementara itu, salah satu temen aku Yudis, nyuruh aku untuk dengerin The Adams, dia merekomendasikan konservatif. Jelas, setelah itu aku coba untuk dengerin lagu-lagu The Adams. Setelah dengerin beberapa lagunya, aku sering dengerin dan suka sama "Timur". Makanya aku sering nyanyiin ya tiap call sama kamu hehehe. Timur adalah salah satu dari dua b...