Di meja komputer kamar gue, akhirnya gue kembali nulis apa yang ada di kepala gue. Dulu gua beberapa kali nulis di blog yang berceceran entah kemana, karena gue lupa nama blog-nya. Tulisan ini gue buka dengan kabar yang cukup bikin gue bete. Siang tadi gue baru dapet info hasil assesment dari magang gue selama tiga bulan di salah satu Big 4. Enggak terlalu bikin gue kaget sih, karena gua udh tahu satu dari empat assesment gua. Tapi, namanya manusia, udah mikir ikhlas, pasrah, tetep aja kecewa kalo hasilnya ga sesuai dengan harapan. Naif juga si kalo gue bilang gua magang dengan baik kemarin. Jauh didalam hati, gue juga gak puas sama kinerja gue selama magang. Dengan hasil itu, gue berarti harus ikut tes tulisnya untuk bisa masuk sebagai associate, which is susah nya minta ampun. Tahun 2022 gue pernah ikut tes ini, hasilnye gue gagal, dan di banned satu tahun, dan sialnya bulan April ini, tepat satu tahun dari tes terakhir gue itu. Gue juga jadi bingung gimana nyari kerja, karena gak banyak yang lagi buka lowongan. Let see, gua harus teguh dengan premis "Allah maha baik, rejeki gak akan ketuker, Allah akan beri hasil terbaik buat hambanya." Udeh kali ya bahas magangnya, biar gue ga berlarut-larut gitu.
Kali ini gue akan bahas tentang sesuatu yang terlintas di kepala gue. Beberapa waktu belakangan ini, di fyp tiktok gue, lewat postingan tentang cewek atau cowok yang berkenalan di dating apps, kemudian chatingan asik, terus ketemuan, eh abis itu dighosting. Biar membantu penjelasan pada tulisan ini, gue pisah antara si pelaku dan si korban ya. Katakanlah si pelaku ini pihak yg ghosting, dan si korban adalah pihak yang dighosting. Tendensi postingan dan komennya sih mengarah kalo pas ketemu itu gak sesuai dengan foto di aplikasi lah ya. Enggak sedikit komennya menyalahkan dan memandang kejam si pelaku karena memandang fisik dsb. Menurut gue memang kurang bijak jika setelah bertemu si pelaku langsung ghosting, setidaknya hargai dengan pergi secara perlahan-lahan atau dengan cara yang lebih bijak lainnya. Tapi, menurut gue ga ada yang salah dengan si pelaku yang gak melanjutkan hubungan, karena dia punya ide atau tipe atas pasangan yang ada di kepala dia. Termasuk salah satunya ialah kecantikan atau ketampanan ya, yang akan menjadi poin bahasan pada tulisan ini.
Gue pernah tau ada cerita dimana ada orang yang main aplikasi anon, terus dia chatingan asik banget, berasa nyambung banget, sampe mau janjian ketemuan. Hingga akhirnya mereka bertuker foto, terus si cewek yang dalam konteks ini pelaku menghilang setelah itu. Pada saat itu, si cowok yang dalam konteks ini korban bete, kesal, menghardik dirinya, dan merasa bahwa dirinya tidak pantas di cintai? lebay gak sih wkwkwk, tapi ya memang begitu katanya. Lalu, si korban bercerita ke orang lain, dan akhirnya si korban itu sadar bahwa itu adalah hak si pelaku, mungkin aja emang si korban bukan pangsa pasar atau tipe si pelaku, jadi sah-sah aja kalo dia pergi. Menurut orang ini, dia yakin si korban pun akan begitu kalo dia nemu orang yang gak sesuai tipenya.
Enggak ada yang salah dengan si pelaku yang memilih tidak melanjutkan hubungan dengan si korban, karena ternyata si korban tidak sesuai dengan foto ataupun dengan selera dia, si pelaku berhak atas itu. Jika dalam postingan tersebut banyak komentar yang menyerang si pelaku, gue yakin banget, sebenernya mereka yang nyerang itu gak sadar kalo mereka juga sebenernya pernah atau akan melakukan apa yang dilakukan olah si pelaku juga, jika kencan dengan yang bukan tipenya. Tapi, memang hal itu dianggap kejam, maka menurut gue "Tanpa kita sadari, kita semua kejam." Karena, setiap orang memiliki selera masing-masing, jadi ya sah-sah saja jika setelah tukeran foto atau ketemuan, yang merasa bukan seleranya akan pergi atau tidak melanjutkan. Akan terdengar menyakitkan, jika kita menjadi si korban, karena kita akan merasa minder, merasa tidak layak dengan siapapun, tapi toh kita akan cuek jika kita menjadi si pelaku? coba deh kalo lo dikenalin sama temen lu cowok atau cewek, dan dia bukan tipe lo, pasti lo juga gak mau kan? nah itu maksud gue. Bedanya, cuma ini tanpa perantara aja gitu. Oleh karena itu, maka sebenernya hal itu bukanlah hal yang luar biasa, melainkan hal yang biasa aja. Hal itu juga menurut gue merupakan salah satu risiko dari kenalan atau ketemuan dari dating apps, anon apps, atau aplikasi serupa lainnya yang mana berorientasi besar pada kondisi fisik.
Maka untuk mencari kenalan atau bahkan pasangan kita harus memperhatikan satu hal. Dapat dikonotasikan kita menawarkan barang dengan kualitas bagus di pasaran, dengan kondisi cateris paribus, maka permintaan akan naik. Poin kualitas disini perlu garis bawahi, dan penting untuk kita mengetahui kualitas apa yang dimiliki oleh masing-masing dari kita. Jika memang dirasa kita merupakan orang yang dapat mudah menarik dengan fisiknya, maka mungkin akan baik-baik saja berkenalan atau bertemu dengan orang melalui aplikasi di atas. Akan tetapi, jika kita dirasa kita bukanlah orang yang dapat mudah dicintai dengan fisiknya, namun menonjol pada hal lain, mungkin aplikasi tersebut kurang cocok untuk kita, walaupun memang tidak salahnya mencoba, tapi akan ada risiko penolakan tadi.
Sebenernya fase itu termasuk di fase denial dan anger dari lima tahap berduka oleh Dr. Elisabeth Kubler-ross dalam bukunya On the Death and Dying (1969) yang salah satu bahasannya bisa dilihat di tulisan ini. Tapi sebenernya menurut gue, hal di atas itu ialah bentuk dari kita yang belum berdamai pada diri kita sendiri. khususnya buat kaum pas-pasan. Emang berdamai pada diri sendiri itu sulitnya bukan main. Ada satu ucapan dari Yudha Keling (salah satu komika dan youtuber trading yang rugi terus wkwkwk) yang menurut gue cukup bagus. "Kita gak bisa mengontrol perkataan orang lain kepada kita, kita cuma bisa mengontrol penerimaan kita atas ucapan orang lain" dan "Ketika gue di katain jelek, gua cuma bisa milih dua hal, mengiyakan perkataan tersebut, atau gue usaha untuk skincare dsb untuk merubah keadaan". Hidup berdamai pada diri sendiri!
Komentar
Posting Komentar