“Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312).
Dari pengertian diatas, setidaknya dapat diambil kata memuji Allah karena telah diberi nikmat. Jadi, jika kita mendapat suatu kenikmatan, maka kita senantiasa berterimakasih dengan memuji Allah, karena segala nikmat itu datangnya hanya dari Allah. Lalu sebutan untuk orang yang bersyukur ialah qanaah. Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana'ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada didirinya adalah kehendak Allah. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad pada satu kesempatan pernah menyampaikan bahwa:
“Orang-orang yang qanaah itu ketika dia mendapatkan berapapun dari hasil usahanya dia selalu bersyukur pada Allah dan menganggap bahwa apa yang diberikan Allah itu sesuatu yang besar, sesuatu yang berharga".
Dari kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa kita harus senantiasa menganggap apa yang telah kita dapat merupakan suatu hal yang besar, suatu hal yang terbaik buat kita. Kadang tanpa kita sadari, kita menganggap bahwa apa yang kita dapat ialah hal yang kecil, hal yang remeh, kita menginginkan hal yang lebih besar dari apa yang telah kita dapat. Semisal, kita mendambakan suatu jenis kendaraan bermotor sejak lama. Ketika suatu waktu orang tua kita mengamini kendaraan tersebut, namun setelah kita memilikinya, kita membandingkan dengan kendaraan miliki orang lain yang ternyata lebih bagus, atau lebih keren dari apa yang sudah kita miliki, ya ga ada habisnyaaaa. Padahal, bisa saja banyak dari orang yang menginginkan apa yang telah kita miliki tersebut. Dalam hal pekerjaan bisa juga terjadi, semisal kita mendambakan bekerja pada suatu kantor yang karena reputasi, gengsinya mentereng, sehingga kita akan merasa keren jika kita bekerja di kantor tersebut. Akan tetapi, karena satu dan lain hal kita tidak berhasil bekerja di kantor tersebut, namun kita diterima bekerja di kantor yang mungkin tidak banyak orang tahu namanya. Kita mengeluh, mulai membandingkan dengan orang lain. Padahal, tanpa disadari kita sepatutnya bersyukur, karena banyak orang diluar sana yang pusing tujuh keliling karena sampai berbulan-bulan sejak lulus belum mendapatkan pekerjaan. Sebagai orang yang pernah menganggur, gue tahu betul menganggur sangat teramat menyebalkan hahaha.
Kemudian, sesuai dengan judul ini, sekarang gue mau kaitkan dengan satu lagu yang sebenernya baru gue denger dari pesta pora kemarin. Btw di pesta pora kemarin gue mostly nonton sendirian deh hahaha, untuk gue yang extrovert, hal itu sangat tidak biasa sih, nanti satu waktu gue akan ceritain. Oiya lupa kan, jadi gue di pesta pora kemarin penasaran untuk ke stage yang ada rumahsakitnya. Padahal, seinget gue lagu yang gue tahu cuma "kuning" hahaha. Alhasil, gue cengo di banyak momen kemarin hahaha. Tapi ada satu lagu, yang dari pertama kali gue denger, gue langsung mulai suka. Lagu tersebut yaitu "Apa Yang Tak Bisa". Menurut gue lirik lagu ini sangat relate dengan hal yang mau gue bahas pada tulisan ini, yaitu bersyukur. Kira-kira liriknya gini:
Apa yang tak bisa
Kau raih walau kau t'lah berupaya
Itu hanya tanda
Kau tak membutuhkannya
Apa yang tak bisa
Kau miliki meski kau t'lah temui
Itu hanya tanda
Kau lebih baik tanpanya
Hu hu hu lepaskanlah
Hu hu hu dan tetap percaya
Ah
Semua yang t'lah diberikan olehnya
Pasti ada rencana yang indah
Dan tak perlu merasa gelisah
Bersyukurlah dan berserah
gila keren banget gak sih liriknya.
Sementara sebagaimana yang gue mention di alinea sebelumnya, yaitu kita sering sekali membandingkan pencapaian yang telah kita dapat dengan yang orang lain dapat. Hal tersebut sangat kurang baik dampaknya untuk kita. Karena sebagaimana yang mungkin sering kita dengar, yaitu hidup ini merupakan lari marathon, dan bukan lari jarak pendek 100 meter. Sebagaimana lari marathon, yang finishnya jauh, dan bukan tidak mungkin yang memimpin berbeda di setiap posnya. Namun, perumpaan tersebut, bukan berarti bahwa hidup ini kompetisi ya. Eh bener gak ya, terserah kalian deh menganggapnya bagaimana. Sementara, masih sesuai dengan judul, ada satu band lagi yang punya lirik lagu pas banget sama hal tersebut. Salah satu lagu dari Perunggu, band yang namanya gue udah denger beberapa waktu lalu, tapi baru gue denger sebelum syncronize, dikarenakan senior gue dikantor yang anak gigs abis ngerekomendasiin salah satu lagunya, hingga akhirnya gue dengerin beberapa lagu. Kalau Perunggu ini gua belum pernah denger live performance nya, karena kemarin di syncro dan pesta pora bentrok huhuhu waktunya. Jadi, lagunya yang judulnya "33x" lucu ya, kayak lagi dzikir abis sholat jir. Kurang lebih liriknya gini nih:
Diantara pusaran nirfungsi
Petakan semua lagi
Titik tuju yang t'lah terpatri
Melamban bukanlah hal yang tabu
Kadang itu yang kau butuh
Bersandar hibahkan bebanmu
Rotasikan pandanganmu
Ambil sudut yang terbaru
Belum pernah kau coba
Lihat semua bukan dari matamu
Kalimat indahnya berada di kalimat melamban bukan hal yang tabu
Pada kata Rotasikan pandangamnu juga teramat baik
Komentar
Posting Komentar